quiet quitting digital

cara manusia membatasi keterlibatan emosional di dunia online yang berisik

quiet quitting digital
I

Pernahkah kita terbangun di pagi hari, membuka ponsel, dan tiba-tiba merasa sangat lelah? Lelah yang saya maksud bukanlah lelah fisik, melainkan lelah jiwa. Kita melihat perdebatan panas di X, orang pamer pencapaian di LinkedIn, dan drama tiada akhir di TikTok. Dulu, mungkin kita ikut gatal berkomentar atau minimal merasa tertinggal karena FOMO (Fear of Missing Out). Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berubah. Kita cuma menggulir layar perlahan, menatapnya kosong, lalu menutup aplikasi tanpa emosi sama sekali. Kita tidak menghapus aplikasinya. Kita tetap online. Kita hanya... berhenti peduli.

II

Untuk memahami kelelahan kolektif ini, kita perlu mundur sejenak melihat bagaimana otak kita berevolusi. Otak manusia modern pada dasarnya adalah perangkat keras dari Zaman Batu yang dipaksa menjalankan perangkat lunak abad ke-21. Secara historis, leluhur kita berevolusi dalam kelompok kecil yang terdiri dari maksimal 150 orang. Di dunia antropologi dan psikologi, ini dikenal sebagai Angka Dunbar. Otak kita didesain secara biologis untuk peduli hanya pada masalah suku kita sendiri. Saat ada ancaman, wabah, atau gosip di desa kecil kita, sistem saraf kita merespons dengan kewaspadaan. Namun, apa yang terjadi sekarang? Kita dijejali masalah dari 8 miliar manusia setiap detiknya. Perang di benua lain, kemarahan massal tentang hal sepele, hingga keluhan ribuan orang asing di layar 6 inci kita. Kapasitas empati kita punya batas biologis, teman-teman. Ketika batas itu terus-menerus diterobos oleh notifikasi, otak kita mulai kehabisan napas.

III

Lalu, bagaimana cara kita bertahan dari tsunami informasi yang bising ini? Jawabannya sangat menarik. Alih-alih lari ke hutan dan menghancurkan ponsel, kita secara sadar mulai melakukan sesuatu yang lebih sunyi. Di dunia kerja modern, kita mengenal istilah quiet quitting, yaitu bekerja secukupnya sesuai gaji tanpa ikatan emosional berlebih. Nah, tanpa sadar, kita sedang melakukan hal yang sama pada kehidupan maya kita: quiet quitting digital. Kita masih punya akun Instagram. Kita masih membalas pesan obrolan grup sesekali. Tapi kita mencabut kabel emosi kita dari sana. Kita menjadi hantu digital yang sekadar mengamati tanpa mau lagi terlibat secara batin. Namun, ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah sikap dingin kita ini adalah tanda keputusasaan massal masyarakat modern? Atau jangan-jangan, ini adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang jauh lebih canggih dari yang kita kira? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala kita saat kita memutuskan untuk "hadir tapi absen" di internet?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang melegakan. Quiet quitting digital sama sekali bukanlah tanda bahwa kita menjadi apatis, malas, atau kehilangan rasa kemanusiaan. Secara neurologis, ini adalah strategi bertahan hidup tingkat tinggi. Ketika kita terus-menerus terpapar stres siber, tubuh kita mengalami apa yang disebut sebagai allostatic overload, yaitu kelelahan parah akibat sistem respons stres yang menyala tanpa henti. Amigdala kita—bagian otak purba yang memproses rasa takut dan ancaman—terlalu sering disetrum oleh algoritma yang memang sengaja didesain untuk memancing kemarahan demi interaksi maya (engagement). Untuk mencegah kerusakan mental yang lebih fatal, korteks prefrontal kita—bagian otak yang logis dan merencanakan masa depan—mengambil alih kendali. Ia secara aktif menciptakan tembok pembatas. Proses ini dikenal sebagai pelepasan emosional atau emotional decoupling. Otak kita secara cerdas menghitung bahwa tidak semua drama orang asing di internet layak mendapatkan pasokan glukosa dan hormon kortisol kita. Ini adalah bentuk perlawanan diam-diam yang paling elegan. Kita memotong pasokan oksigen yang paling diincar oleh raksasa teknologi: perhatian emosional kita.

V

Pada akhirnya, membatasi keterlibatan emosional di dunia maya adalah sebuah kewarasan, bukan kelemahan. Kita tidak sedang kehilangan empati. Kita hanya sedang merebut kembali kendali atas ke mana empati itu harus disalurkan. Saat kita memilih untuk menahan jempol kita agar tidak berdebat dengan orang tak dikenal di kolom komentar, kita sebenarnya sedang menghemat energi berharga. Kita menyimpannya untuk mendengarkan cerita teman kita di dunia nyata, bermain dengan hewan peliharaan, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir teh panas dalam diam tanpa gangguan bunyi ping dari ponsel. Jadi, teman-teman, jika belakangan ini kita merasa tidak ingin memposting apa pun, malas beropini, dan hanya ingin menjadi penonton pasif di pinggir lapangan siber, sadarilah bahwa itu tidak apa-apa. Nikmatilah fase quiet quitting digital ini. Kadang-kadang, cara paling rasional untuk merawat jiwa adalah dengan membiarkan dunia maya berisik sendiri, sementara kita menciptakan ruang yang tenang di dalam pikiran kita.